Yang Menghalangi Do’a Kita

Sebuah pemikiran logika sederhana dari seorang sahabat, Andi Hakim tentang do’a. Pemikirannya sangat sederhana dan sangat mudah dicerna. Sahabat ini juga memaparkan secara ringan mengapa doa terkadang sulit terkabul. Silahkan dibaca dan diambil hikmahnya :

Bicara tentang doa, sebenarnya doa2 kita itu menggantung di langit. Ada barier yang menghalangi, yaitu dosa2 kita. Ibarat balon2 yang ketahan ama plafon rumah atau nyangkut ranting pohon.

Nah, ketika dosa2 kita terhapus, maka doa2 itu pun terbang lagi melewati barier itu. Termasuk doa2 yang udah lama banget ngegantung di sana yang kita udah lupa.

Tapi Allah gak lupa. Makanya mungkin ada tiba2 sesuatu yang gak kita inginkan dikasi sama Allah. Mungkin itu doa kita yang kita lupa atau doa orang lain buat kita yang juga ketahan karna dosa kita.

Nah, kata orang, nikah itu mengundang rejeki ya? Bisa jadi mungkin ketika nikah banyak orang yang jadi tobat sehingga bikin barier nya itu hilang. Kan sering tuh ya kita denger orang yang pas bujangan gak bener pas nikah jadi bener. Mungkin itu yang menghapus barier sehingga doanya gak kegantung lagi.

Adakah keadaan di mana doa itu bisa dikabulkan walaupun sedang ketahan barier? Ada.

Ada doa yang “conditional if”, jika dia dalam kondisi itu, barier gak akan jadi penghalang.
Kondisi2nya itu :

1. Doa orang tua yang teramat sangat penuh harap. Doa itu bisa meluluhkan barier.

2. Doa orang lain (anggep namanya B) yang yang pernah dia tolong. Trus si B menyebut pertolongan orang yg didoainnya (misal si A) sebagai “pelicin” (sebenere kata2 pelicin ini gak tepat sih, konotasinya terlalu buruk, tapi gw ga tau apa diksi lainnya). Gw rasa ini bisa meruntuhkan barier. Makanya kan ada ayat/hadits: mudahkanlah urusan orang lain maka Allah akan memudahkan urusanmu.

3. Ketika orang itu sedang terzalimi. Setau gw orang terzalimi itu doanya langsung tanpa batas apapun. Barier jadi gak ngaruh.

Nah, dari semua penjabaran di atas, kesimpulannya adalah jadi sebenarnya Allah gak pernah menzalimi hambanya. Tapi manusia itu yang menzalimi dirinya sendiri. Dan itu masuk ke dalam bagian term “stupidity” dalam kamus gw.

“Syarat dan ketentuan yang berlaku” atau “SOP langit” agar doa dikabulkan udah ada dan itu berjalan.

Wallahu alam bishowab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s